Keutamaan Berkurban
Khutbah Jumat
A
Ahmad Sodikin
5 Mei 2026
4 menit baca
2 views
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ...
أَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Iman yang tertanam dalam hati adalah anugerah terindah. Namun, iman tanpa pembuktian adalah seperti pohon tanpa buah. Di antara bentuk pembuktian iman yang paling agung dan paling menyentuh relung jiwa adalah berkurban. Kurban, lebih dari sekadar ritual sembelihan hewan, adalah manifestasi ketaatan mutlak, bukti cinta yang mendalam, dan pernyataan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia adalah perayaan pengorbanan ruhani, di mana kita dilatih untuk mengalahkan ego, memutus belenggu keserakahan, dan meniru jejak para nabi yang mulia.
Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman: "Bukanlah daging hewan kurban itu yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Hajj: 37). Renungkanlah ayat ini, Saudaraku. Yang diminta Allah bukanlah darah atau daging semata, melainkan ketakwaan yang tulus dari hati kita. Ketakwaan yang menjadikan setiap ibadah, termasuk kurban, sebagai sarana untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sejarah kurban adalah sejarah perjuangan terberat melawan hawa nafsu. Ingatlah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diperintahkan Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail ‘alaihissalam. Sebuah perintah yang mengiris hati, menguji kesetiaan, dan menghancurkan setiap naluri kebapakan. Namun, apa jawab Nabi Ibrahim? Ia berkata kepada Ismail, "Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" Ismail menjawab dengan hati yang lapang, "Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. Ash-Shaffat: 102).
Lihatlah ketulusan yang luar biasa! Sebuah percakapan yang seharusnya hanya berisi tangis dan duka, justru dipenuhi oleh kesadaran ilahi dan kesabaran tak terhingga. Inilah puncak ketaatan, ketika apa yang paling kita cintai di dunia ini, siap kita persembahkan demi keridhaan Allah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Melihat ketulusan itu. Allah tidak membiarkan nabi-Nya melakukan tindakan yang menyakitkan itu, namun Dia justru meningkatkan derajat keduanya dan menjadikan perintah kurban ini sebagai syariat abadi bagi umat manusia hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Berkurban bukan hanya tentang kepatuhan pada perintah, tetapi juga tentang menebar kasih sayang. Daging kurban yang kita bagikan kepada fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan, adalah perwujudan dari ajaran Islam yang menekankan pentingnya kepedulian sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang memiliki kelapangan tetapi tidak mau berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ibnu Majah). Hadits ini mengandung peringatan keras, namun di balik itu tersembunyi janji kebaikan yang tak terhingga. Ibadah kurban adalah sarana silaturahmi, penguat ukhuwah, dan pembersih hati dari segala bentuk kesombongan dan kekikiran.
Berapa banyak dari kita yang masih terikat oleh harta, enggan melepaskan sebagian demi Allah? Harta yang kelak akan menjadi beban di akhirat jika tidak dibelanjakan di jalan-Nya. Mari kita renungkan, adakah yang lebih berharga daripada cinta Allah? Adakah yang lebih kekal daripada bekal amal shalih kita di alam keabadian? Kurban adalah kesempatan emas untuk mengikis kecintaan duniawi dan menumbuhkan kerinduan akan surga-Nya yang abadi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Saat kita menyembelih hewan kurban, mari kita hadirkan dalam hati kesadaran bahwa kita sedang meniru malaikat Jibril yang rela berkorban demi tugasnya, meniru Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, dan meniru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa berkorban untuk umatnya. Jadikan setiap tetes darah hewan kurban sebagai saksi bisu taubat kita, penyesalan kita atas dosa-dosa yang telah lalu. Jadikan setiap irisan dagingnya sebagai simbol kerelaan kita untuk berkorban demi agama, keluarga, dan sesama.
Marilah kita tatap hari-hari di hadapan kita dengan semangat baru. Bukan semangat duniawi yang fana, melainkan semangat akhirat yang kekal. Semangat mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya dari ridha Allah, dari cinta-Nya, dari rahmat-Nya. Kurban adalah salah satu gerbang menuju rahmat tersebut. Ia mengajarkan kita makna sesungguhnya dari keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan.
Ya Allah, kabulkanlah kurban kami, terimalah taubat kami, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang senantiasa bersedia berkorban demi cinta-Mu.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.